Contributor : Galih Dea | Date : 2019-12-19
Mobile app adalah aplikasi-aplikasi yang dapat berjalan di perangkat mobile yang kita miliki. Saat ini, penggunaan perangkat mobile yang ramai ini salah satunya dikarenakan oleh berbagai mobile app yang muncul. Ada beragam mobile app yang muncul di berbagai mobile app marketplace, mulai dari media sosial, pemutar dan pengolah konten multimedia, game, sampai produktivitas pun sudah hadir untuk menunjang keperluan kita.
Beberapa tahun belakangan ini, sebagian mobile app banyak yang dikembangkan secara cross-platform. Mengembangkan mobile app secara cross-platform ini memiliki beberapa keuntungan, salah satunya adalah efisien dalam penggunaan sumber daya dan waktu dalam pengembangannya. Untuk mengembangkan mobile app secara cross-platform, hadir beberapa tool yang memudahkan pengembangnya, salah satunya adalah framework yang bernama Flutter.
Flutter merupakan mobile UI framework yang bersifat bebas dan open-source. Flutter ini diciptakan oleh Google dan mulai dirilis pada Mei 2017. Flutter memudahkan pengguna untuk mengembangkan mobile app yang cross-platform, sehingga mobile app tersebut dapat tersedia di lebih dari satu platform, yaitu pada Android dan iOS. Flutter berfokus pada pengembangan front-end, dan pengembang dapat menggunakannya untuk mengembangkan mobile dan web app.
Apabila Xamarin menggunakan C# dan React Native menggunakan JavaScript sebagai bahasa pemrograman dasarnya, lain halnya dengan Flutter. Flutter ini menggunakan bahasa pemrograman khusus, yang dinamakan dengan Dart. Dart merupakan bahasa pemrograman yang dibuat oleh Google sejak Oktober 2011, dan sudah berkembang cukup pesat dalam beberapa tahun belakangan ini.
Flutter ini menjadi populer di kalangan pengembang mobile app karena memiliki beberapa kelebihan. Pertama, Flutter menawarkan cukup banyak API, pre-built widget, CLI tool, dan berbagai tool lain yang membuatnya sempurna untuk mengembangkan mobile app yang cross-platform. Kedua, walaupun Flutter menawarkan beragam pre-build widget, pengembang masih diberikan opsi untuk membuat atau mengkustomisasi widget yang sudah tersedia. Ketiga, Flutter ramai digunakan karena dikembangkan dan didukung penuh oleh Google. Keempat, Flutter memudahkan pengguna untuk memperbaiki bug lebih cepat dengan dukungan implementasi kode yang lebih cepat dibandingkan framework lainnya. Dengan adanya kelebihan tersebut, Flutter menjadi salah satu teknologi yang kami terapkan dalam lingkup pengembangan mobile apps di Vantura Digital Agency.
Walaupun begitu, Flutter tetap memiliki kekurangan. Satu, walaupun Flutter memiliki beragam API, namun Flutter belum mencakup banyak native API yang dapat digunakan oleh pengembang, yang menyebabkan pengembang harus memasang tool dari pihak ketiga diluar Flutter. Dua, ukuran dari app yang dihasilkan dengan Flutter tergolong cukup besar, yang seringkali membuat pengembang untuk mengurangi jumlah library dan tool yang digunakan, mengkompres media, atau bahkan menghilangkan beberapa aspek yang membuat mobile app tersebut seamless, demi mengurangi ukuran dari app tersebut.
Saat ini, telah banyak mobile app yang menggunakan Flutter sebagai basisnya. Beberapa produk dari Google telah meggunakan Flutter, seperti Google Ads dan Google Stadia. Philips Hue pun menggunakan Flutter untuk menghadirkan kontrol yang intuitif bagi penggunanya dalam mengatur smart light di rumah mereka. Salah satu perusahaan ride-sharing terbesar di Asia, yaitu Grab, juga menggunakan Flutter pada GrabFood Merchant App milik mereka. Dan masih ada banyak lagi mobile app yang dikembangkan dengan Flutter.
Itulah sedikit hal-hal yang perlu kalian tahu dari Flutter, salah satu framework cross-platform mobile app yang paling populer saat ini.
Sumber Berita:
"What is Flutter and Why You Should Learn It in 2020" - freecodecamp.org
"Flutter vs. React Native vs. Xamarin" - logrocket.com
"Apps take flight with Flutter" - flutter.dev
Sumber Gambar:
Tags :
mobile app, mobile app development, internet, flutter, google, cross-platform, vantura,