Peta DIgital, Solusi Melawan Misinformasi Coronavirus

Contributor : Galih Dea | Date : 2020-02-10

Coronavirus adalah wabah virus yang pertama kali muncul di Wuhan, Tiongkok, yang mulai tahun 2020 ini menjadi salah satu bahan yang sedang hangat dibicarakan di dunia. Hal ini dikarenakan mulai bermunculannya banyak korban karena coronavirus, yang tidak hanya muncul di Tiongkok, namun juga di sebagian besar belahan dunia. Karena santernya perbincangan mengenai coronavirus, di dunia maya mulai bermunculan berbagai informasi sebagai pendampingnya, baik diskusi nyata maupun yang hoax, yang terbilang sulit untuk diidentifikasi kebenarannya.

Untuk mengatasi itu, Mehdi Moussaid, membuat peta digital, yang berguna untuk memberikan gambaran mengenai rumor dan kepanikan yang ditimbulkan oleh tersebarnya coronavirus di dunia, yang dibandingkan dengan kasus-kasus coronavirus yang telah teridentifikasi.

Ada dua bagian yang dimunculkan pada peta digital ini. Bagian pertama menampilkan statistik jumlah orang yang terinfeksi coronavirus dalam kurun waktu enam hari, ditunjukkan dengan titik merah. Di bagian kedua, statistik mengenai jumlah tweet dengan menyisipkan tagar #coronavirus, ditampilkan dengan titik hijau.

Titik merah yang muncul pada peta sebagian besar berasal dari area peta sekitar Tiongkok, sedangkan titik hijau yang kemudian muncul secara luas di berbagai bagian peta, hanya dalam hitungan hari, menunjukkan bagaimana pemberitaan mengenai coronavirus dapat dengan cepat tersebar di seluruh dunia.

Media sosial adalah salah satu platform yang seringkali digunakan oleh berbagai orang di seluruh dunia sebagai ladang informasi kilat, baik untuk pencari maupun penyebarnya, tak terkecuali oleh pihak-pihak yang memiliki wewenang hukum. Oleh karena itu, walaupun media sosial telah digunakan oleh berbagai pihak berwenang untuk menyebarkan berbagai informasi mengenai coronavirus yang akurat dan terbarukan, di saat yang sama pula media sosial digunakan untuk menyebarkan berita hoax mengenai coronavirus, menimbulkan kepanikan yang berpotensi berskala internasional.

Kepala World Health Organization (WHO), ketika di Jenewa pada 3 Februari lalu mengatakan bahwa WHO sedang bekerjasama dengan Google untuk memastikan bahwa pencarian mengenai coronavirus akan memberikan informasi yang berasal dari agensi kesehatan PBB, sebagai usaha untuk melawan berita-berita coronavirus yang misleading bagi penduduk dunia. Selain Google, berbagai platform media sosial lain, seperti Twitter, Facebook, Tencent, dan TikTok juga ikut serta dalam melawan munculnya berbagai informasi yang salah.

Dan untuk para pengguna internet, terutama di Indonesia, apabila kalian menemukan berbagai pemberitaan mengenai coronavirus, sebagai langkah awal untuk mengidentifikasinya, jangan lupa untuk senantiasa melakukan cross-check pada pemberitaan tersebut dengan sumber lain, sehingga kalian tidak terjebak dengan informasi yang misleading.

 

Sumber Berita:

"Map shows how quickly panic spread as coronavirus cases confirmed" - nzherald.co.nz

 

Sumber Gambar:

"Map shows how quickly panic spread as coronavirus cases confirmed" - news.com.au

Tags :

panic, information, technology, trend, coronavirus, china, dunia, world, indonesia, mehdi moussaid, who, world health organization, social media, hoax, misleading, vantura, digital agency, semarang
Type and Hit Enter to Search