Contributor : Galih Dea | Date : 2020-02-06
Robotika adalah salah satu bidang teknologi yang menarik untuk diikuti. Saat ini, berbagai inovasi di bidang robotika sedang marak, salah satunya adalah tangan bionik. Tangan bionik ini dapat dianggap sebagai pengganti dari tangan manusia. Di dunia, sudah banyak tangan bionik yang diciptakan untuk publik, tak terkecuali di Indonesia.
Salah satu perguruan tinggi bergengsi di Indonesia, yaitu Universitas Diponegoro, baru-baru ini dikabarkan sedang mengembangkan tangan bionik, yang dapat digunakan oleh kaum difabel. Tangan bionik ini dikembangkan oleh Pusat Unggulan IPTEK Perguruan Tinggi Teknologi Kesehatan Center for Bio Mechanics, Bio Material, Bio Mechatronics, and Bio Signal Processing (PUI PT Teknologi Kesehatan CBIOM3S) Universitas Diponegoro.
Riset untuk pengembangan tangan bionik ini diakui sudah dilakukan sejak tahun 2015, dimana sebelumnya riset dilakukan untuk mengembangkan tangan robot, sebelum akhirnya beralih ke tangan bionik. Sampai tahun 2020, tercatat sudah ada empat produk tangan bionik, yaitu Asta Bionic Hand, Bimo Bionic Hand, Albiondi Bionic Hand, dan yang terbaru adalah Bionic Hand 2020. Ada ragam fitur yang dimiliki oleh tangan bionik buatan CBIOM3S ini, dengan kepekaan sensor yang dapat diatur hanya melalui ponsel pengguna dengan sistem operasi Android. Selain kepekaan sensor, pengguna dapat menentukan gerakan berdasarkan rangsangan pengguna yang tertangkap oleh sensor, seperti menunjuk dengan menggunakan satu jari, membuatnya cukup efektif digunakan dalam kegiatan sehari-hari.
Pengembangan dari tangan bionik CBIOM3S ini, sejak dari generasi pertama, tidak hanya berkisar pada teknologinya, namun juga pada kenyamanan penggunanya. Untuk itu, data-data yang digunakan untuk pengembangan tangan bionik ini menggunakan data orang Indonesia, sehingga produknya bisa lebih relevan.
Selain teknologinya, ada hal menarik dari tangan bionik CBIOM3S. Apabila tangan bionik umumnya menggunakan fiber sebagai socket di bagian lengannya, fiber dari tangan bionik buatan CBIOM3S menggunakan eceng gondok. Ada dua alasan dari penggunaan eceng gondok ini. Pertama, eceng gondok yang sudah diolah dianggap memiliki kualitas yang setara dengan fiber, sehingga dapat menekan biaya produksi. Kedua, eceng gondok ini didapat di Rawa Pening. Di Rawa Pening sendiri, eceng gondok hanya berfungsi sebagai gulma, sehingga akan lebih bermanfaat bila eceng gondok ini diolah dan dimanfaatkan menjadi socket tangan bionik.
Hingga Desember 2019, tangan bionik buatan CBIOM3S Undip ini terbilang memiliki banyak peminat, dengan tujuh tangan bionik yang digunakan para penyandang disabilitas. Untuk harga per tangan bioniknya sendiri masih belum diumumkan secara resmi, namun tangan bionik mereka jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan tangan bionik buatan perusahaan robotika di tanah Britania, dengan teknologi yang kurang lebih sama. Tangan bionik tersebut terjangkau karena sebagian besar komponennya dibuat sendiri, mulai dari socket, komponen jari, dan lain sebagainya. Disamping itu, printer 3D juga digunakan untuk membuat produk tangan bionik mereka.
Pada tahun 2020, pengembangan terhadap tangan bionik masih akan terus dilakukan. Pihak CBIOM3S juga berharap akan ada riset terkait pembuatan sensor untuk tangan bionik secara mandiri, sehingga mengurangi biaya untuk impor sensor. Dan dengan hadirnya tangan bionik lokal ini, Indonesia akan lebih banyak memunculkan produk-produk robotika yang lebih canggih, yang juga akan berguna bagi bangsa, serta melambungkan nama Indonesia di dunia.
Sumber Berita:
"Kecanggihan Tangan Bionik Made in Undip Semarang" - inet.detik.com
Sumber Gambar:
"Tangan Bionik Canggih Buatan Undip Semarang" - inet.detik.com
Tags :
robotika, robotics, technology, teknologi, tangan bionic, bionic hand, development, undip, universitas diponegoro, indonesia, research, eceng gondok, kaum difabel, lokal, produk indonesia, semarang, vantura