Contributor : Galih Dea | Date : 2020-01-17
Banyak sekali beragam kegiatan yang dapat dilakukan dengan perangkat mobile kita. Salah satunya adalah melakukan berbagai komunikasi dengan pengguna lainnya. Hal ini memungkinkan karena hadirnya internet dan berbagai aplikasi media sosial. Aplikasi media sosial sendiri memiliki banyak bentuk, di antaranya adalah aplikasi perpesanan, atau messaging app. Messaging app ini adalah aplikasi media sosial yang memiliki fitur utama untuk berkirim berbagai pesan dengan sesame pengguna aplikasi tersebut. Saat ini, dari banyaknya messaging app yang bermunculan di dunia, WhatsApp menjadi salah satu messaging app yang dapat digunakan oleh orang-orang.
WhatsApp adalah messaging app yang pertama kali dirilis pada 2009. WhatsApp sendiri dicetuskan oleh dua orang, yakni Brian Acton dan Jan Koum, dimana keduanya merupakan eks karyawan Yahoo!. Acton dan Koum menciptakan WhatsApp pertama kali dirilis pada perangkat iPhone, setelah Koum menyadari betapa besar potensi yang dimiliki oleh perangkat buatan Apple tersebut. Setelah melalui berbagai macam hal, akhirnya WhatsApp ini dapat digunakan di berbagai perangkat, termasuk diantaranya perangkat BlackBerry besutan Research In Motion dan Android besutan Google. WhatsApp ini memiliki fitur-fitur yang saat ini menjadi standar bagi messaging app, seperti push notification, bubbly conversation room, dan juga fitur untuk melakukan voice call dan video call. Lima tahun setelah perilisannya, WhatsApp kemudian diakuisisi oleh Facebook, yang sempat menganggap WhatsApp ini merupakan saingan dari messaging app milik mereka, yaitu Facebook Messenger.
Sejak WhatsApp diakuisisi Facebook, cukup banyak hal yang membuat Acton dan Koum naik pitam, salah satunya yang terbaru adalah keputusan Mark Zuckerberg, CEO dari Facebook, yang ingin WhatsApp dijadikan aplikasi premium, atau berbayar, yang direncanakan akan terealisasi pada tahun 2020. Salah satu gagasan Zuckerberg adalah dengan menyisipkan berbagai iklan dari para pengiklan. Hal-hal ini menjadikan WhatsApp berbeda dengan visi Acton dan Koum terhadap WhatsApp, yang menginginkan aplikasi WhatsApp dapat dinikmati oleh segala kalangan tanpa biaya sepeserpun, tanpa interupsi dari iklan, yang sebetulnya sangat dibenci oleh Acton dan Koum. Karena beberapa keputusan tersebut, satu per satu pencetus dari WhatsApp keluar, dimulai dari Acton yang keluar pada tahun 2017, disusul dengan Koum yang menyusulnya pada tahun 2018, beberapa bulan setelah Acton keluar.
Rencana monetisasi WhatsApp tersebut saat ini sedang digodok, karena ternyata tidak semudah yang dipikirkan. Oleh karena itu, Facebook sementara ini menunda rencana untuk memasang iklan pada WhatsApp, sehingga WhatsApp saat ini masih dapat dinikmati secara cuma-cuma, yang tentu saja bebas iklan. Dengan ditundanya rencana pemasangan iklan di WhatsApp, semoga WhatsApp bisa tetap dinikmati dengan baik, dan apabila akhirnya WhatsApp menjadi aplikasi premium, semoga biayanya tidak terlalu mahal, sehingga masih dapat dinikmati oleh segala kalangan, seperti salah satu visi dari Brian Acton dan Jan Koum, dua pencetus WhatsApp yang telah membuat kita dapat dengan mudah berkomunikasi dengan berbagai orang di dunia.
Sumber Berita:
"The History of WhatsApp" - feedough.com
"Bye WhatsApp Gratis, Pilih Beriklan atau Bayar Rp 14.000?" - cnbcindonesia.com
"Facebook backs off plan to plaster ads all over WhatsApp" - theverge.com
Sumber Gambar:
"Segera Ada WhatsApp Premium Agar Bebas Iklan, Segini Harganya!" - oketekno.com
Tags :
mobile app, social media, whatsapp, facebook, monetization, indonesia, dunia, vantura